Kebijakan Pemerintah Mengenai Industri Sepatu

Industri sepatu merupakan salah satu industri manufaktur unggulan di Indonesia. Industri padat karya ini mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 643 ribu orrang atau setara dengan 4,21 persen dari total pekerja industri manufaktur. Industri sepatu mampu menjadi produsen sepatu terbesar ke-6 di dunia dan menyumbangkan devisa sebesar 4,11 milar atau 2,33% dari total ekspor Indonesia pada tahun 2014 (kemenperin.go.id, 2015). Industri ini mempunyai peluang untuk terus berkembang mengingat pasar domestik maupun pasar luar negeri yang semakin luas dengan adanya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Selain itu juga tenaga kerja yang tersedia di Indonesia masih cukup banyak untuk mengisi sektor ini.

Pemerintah telah membuat kebijakan yang dapat mendukung perkembangan industri sepatu untuk memanfaatkan peluang yang besar ini. Kebijakan pemerintah dalam mendukung industri sepatu dapat dilihat melalui kebijakannya terhadap peningkatan faktor produksi industri sepatu. Di sisi modal, pemerintah mengundang investor untuk masuk ke dalam industri ini. Total realisasi investasi sebesar Rp.11,4 Triliun (sampai dengan September 2015) dengan total perkiraan nilai ekspor sebesar US$ 1.3 Miliar dan serapan tenaga kerja sedikitnya 121.285 orang dalam kurun waktu 5 tahun (2015-2019) (bkpm.go.id, 2015).

Di sisi keterampilan sumber daya manusia, pemerintah terus melakukan pelatihan kepada perajin sepatu dan industri kecil menengah (IKM) untuk meningkatkan kualitas dan pemasaran sepatu. Contohnya adalah pelatihan yang diberikan oleh Balai Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia (BPIPI) Sidoarjo jawa Timur. Pelatihan ini dilatarbelakangi oleh kondisi pengusaha IKM saat ini yang pada umumnya kurang memaksimalkan aspek desain sebagai salah satu hal  penting dalam menghasilkan produk-produknya. Selain itu ada juga pelatihan yang diberikan oleh Balai Besar Kulit, Karet, dan Plastik Yogyakarta. Pelatihan yang ditawarkan berkaitan dengan teknologi pembuatan acuan sepatu, teknologi pembuatan sepatu, teknologi pembuatan barang kulit (tas, dompet, hiasan kunci, cinderamata, jaket kulit, celana panjang kulit, rompi kulit, rok kulit, sarung tangan, dasi, topi), desain dan pola, pelatihan pengujian produk kulit dan barang kulit.

Di bidang teknologi industri sepatu, pemerintah melalui Kementerian Perindustrian membuat Program Restrukturisasi Mesin/Peralatan Industri TPT, Alas Kaki Dan Penyamakan Kulit. Program tersebut bertujuan untuk meningkatkan kapasitas, kualitas, efisiensi, produktivitas, serta daya saing industri, termasuk industri sepatu dalam negeri. Program bantuan mesin diberikan kepada Industri Kecil Menengah berupa CNC Shoe last, CNC Foot Scanner, mesin Pond, pisau Shoelast (kemenperin.go.id, 2011).

Di bidang pemasaran, pemerintah melakukan promosi dengan mengadakan pameran-pameran produk sepatu produk dalam negeri. Selain strategi pemasaran konvensional seperti iklan dan penyelenggaraan ajang pameran, pemerintah juga melakukan promosi kepada individu seperti kepada para duta besar negara sahabat. Cara tersebut dianggap efektif karena di era media sosial saat ini, testimoni membeli produk menjadi viral, bergulir ke orang lain dengan cepat dan personal (beritasatu.com, 2015).

Walaupun pemerintah sudah mengeluarkan banyak kebijakan untuk mendukung perkembangan industri sepatu, namun masih ada permasalahan yang muncul. Beberapa kendala yang menghambat perkembangan industri sepatu dalam negeri diantaranya adalah menyangkut bahan baku kulit. Produksi kulit jadi yang menjadi bahan baku sepatu tidak berkembang di Indonesia, sehingga mengharuskan produsen sepatu mengimpor bahan baku kulit. Bahkan perusahaan sepatu besar mengimpor hingga 50 persen kebutuhannya (Indonesia Business daily, 2015). Kendala selanjutnya yang harus dicari penyelesaiannya adalah mengenai banyaknya jumlah sepatu impor, khususnya dari China yang membuat harga sepatu produksi dalam negeri kalah bersaing. Hal itu terjadi karena harga sepatu produksi China lebih murah daripada produksi Indonesia, walaupun secara kualitas produk Indonesia lebih unggul.