Full Day School dalam Sistem Pendidikan Indonesia

Akhir-akhir ini marak diperbincangkan tentang aturan Full Day School dalam dunia pendidikan. Maraknya perbincangan tersebut disebabkan oleh wacana yang dicetuskaan oleh Menteri Pendidikan, Muhadjir Effendy, yang akan memberlakukan Full Day School di Indonesia. Full day school dapat diartikan sebagai program sekolah yang menyelenggarakan proses belajar mengajar di sekolah selama sehari penuh. Umumnya sekolah yang menyelenggarakan pendidikan full day school dimulai 07.00 sampai 16.00. Sontak saja masyarakat Indonesia langsung menanggapi wacana yang dilontarkan oleh Menteri Pendidikan dengan pro dan kontra.

Sistem pendidikan di Indonesia memang masih memiliki permasalahan yang belum dapat diselesaikan. Masalah utama adalah terkait dengan tujuan pendidikan di sekolah itu sendiri. Sekolah adalah suatu bentuk pendidikan formal yang bertujuan untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (UU No. 20 Tahun 2003). Namun karakter-karakter manusia Indonesia yang diharapkan lahir dari institusi sekolah masih belum dapat diwujudkan karena masih belum tertatanya sistem pendidikan dengan baik.

Sistem full day school sebenarnya merupakan sistem yang sudah diterapkan sejak lama oleh negara-negara maju, seperti Singapura, Korea Selatan, Inggris, Amerika Serikat, dan beberapa negara maju lainnya. Sistem ini memiliki tujuan utama untuk untuk meningkatkan kinerja pembelajaran dan juga untuk memfasilitasi kesesuaian yang lebih besar antara kehidupan keluarga dan karir (Coelen, 2004). Menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, Muhadjir Effendy, Dengan sistem full day school ini secara perlahan anak didik akan terbangun karakternya dan tidak menjadi liar di luar sekolah ketika orangtua mereka masih belum pulang dari kerja (Kompas, 2016). Ia juga mencontohkan negara Finlandia, bahwa sistem pendidikan di Finlandia yang menerapkan full day school berhasil menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas dan berhasil membangun pendidikan karakter (Tempo, 2016).

Lantas apakah full day school merupakan solusi dalam mengatasi permasalahan yang mendasar dalam pendidikan di Indonesia?

Sebuah rencana dan strategi baru dapat diterapkan dengan baik jika strategi tersebut selaras dengan kondisi lingkungan yang ada, baik lingkungan internal maupun eksternal (David, 2011). Begitu juga dengan sistem full day school yang banyak digunakan oleh negara maju tersebut, dimana sistem full day school harus selaras dengan sistem pendidikan yang lain, baik formal maupun non-formal, dan juga dengan komponen eksternal dari pendidikan. Jika semua komponen tidak dapat dikelola dengan baik, maka full day school yang berhasil diterapkan di eropa, tentu tidak akan sama hasilnya dengan penerapannya di Indonesia.

Kondisi pendidikan di Indonesia pada kenyataannya masih belum jelas arahnya. Tujuan sekolah formal sendiri lebih untuk mempersiakan ujian yang akan dihadapi oleh peserta didik dan mengejar ijazah. Sedangkan guru lebih cenderung memberikan pelajaran yang abstrak bagi peserta didik, dan banyak memberikan tugas untuk melatih peserta didik tentang pelajaran yang didapatkan sebelumnya. Jika sistem full day school diterapkan tanpa adanya perbaikan terlebih dahulu terhadap pola pendidikan yang lama, maka akan menambah kerumitan dalam mencapai tujuan dari pendidikan sendiri. Hal itu akan semakin menambah beban, baik bagi peserta didik maupun guru, dalam kegiatan pembelajaran di sekolah.

Sarana prasarana sekolah juga harus menjadi bahan pertimbangan dalam penerapan full day school, kebanyakan sekolah di Indonesia belum memiliki fasilitas yang memadai dan membuat nyaman untuk peserta didik berlama-lama di sekolah. Hal itu akan membuat pendidikan karakter yang berkualitas di sekolah menjadi harapan semata dan membawa kejenuhan bagi peserta didik. full day school juga berpotensi untuk mengurangi hak anak dalam bermain, hak beristirahat, dan hak berekreasi. Di beberapa sekolah yang telah menerapkan full day school, banyak anak didik yang stres karena cara pengemasannya tidak ramah (Mulyadi, dalam Tempo, 2016).

Madrasah Diniyah

Madrasah Diniyah merupakan pendidikan agama yang telah berkembang jauh sebelum Indonesia merdeka, dan tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Pendidikan diniyah adalah suatu bentuk pendidikan yang hanya mengajarkan ilmu-ilmu agama (diniyah). Sedangkan Pendidikan Diniyah non-formal merupakan salah satu bentuk pendidikan diniyah yang diselenggarakan dalam bentuk Madrasah Diniyah Takmiliyah, Pendidikan AlQur’an, Majelis Taklim, atau bentuk lain yang sejenis baik di dalam maupun di luar pesantren pada jalur pendidikan non-formal (Peraturan Menteri Agama No. 13 Tahun 2014).  Materi pokok yang diberikan dalam Madrasah Diniyah adalah Fiqih, B. Arab, Aqidah, Akhlaq, Qur’an, Hadits, dan Tarikh. Madrasah ini terbagi menjadi tiga jenjang pendidikan:

  1. Madrasah Diniyah awaliyah untuk siswa-siswa sekolah dasar (4 tahun)
  2. Madrasah Diniyah Wustha untuk siswa-siswa sekolah lanjutan pertama (3 tahun)
  3. Madrasah Diniyah ‘Ulya untuk siswa-siswa sekolah lanjutan atas (3 tahun)

Jumlah Madrasah Diniyah di Indonesia

Jenjang Jumlah
Awaliyah 7.917
Wustha 2.894
Ulya 701

Sumber: Statistik Pendidikan Islam, 2016

Madrasah ini merupakan sekolah tambahan bagi siswa yang bersekolah di sekolah umum. Para orang tua memasukkan anaknya ke madrasah ini agar anaknya mendapat tambahan pendidikan agama, karena disekolah umum dirasakan masih sangat kurang. Ijazah madrasah ini tidak memiliki civil effect, karena itu orang tua murid maupun pelajar sendiri tidak begitu mementingkannya. Jam belajarnya dilaksanakan pada sore hari bagi siswa sekolah umum yang belajar di waktu pagi hari, dan belajar pagi hari untuk mereka yang sekolah umum di waktu sore hari.

Madrasah Diniyah merupakan salah satu bentuk pendidikan karakter bagi masyarakat Indonesia. Pendidikan keagamaan merupakan pilar utama penentu karakter bangsa. Karakter bangsa merupakan aspek penting dari kualitas SDM karena turut menentukan kemajuan suatu bangsa. Karakter yang berkualitas perlu dibentuk dan dibina sejak usia dini. Usia dini merupakan masa emas namun kritis bagi pembentukan karakter seseorang.

Membangun Sistem Pendidikan Indonesia

Full day School memiliki tujuan yang baik, yaitu untuk membangun karakter peserta didik dan mencegah perilaku liar peserta didik ketika tidak berada di sekolah saat orangtua mereka masih belum pulang dari kerja. Sistem ini sudah banyak terbukti penerapannya di beberapa negara eropa. Sistem ini akan menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas dan berhasil membangun pendidikan karakter. Namun untuk penerapannya di Indonesia, masih memerlukan kajian yang panjang dan perbaikan lingkungan pendidikan di berbagai sisi, agar hasil yang diinginkan dapat tercapai.

Di sisi lain, madrasah diniyah yang sudah tersebar di seluruh wilayah Indonesia harus terus dikembangkan. Beberapa tahun terakhir, semakin banyak pemerintah Kabupaten/Kota yang membuat peraturan daerah yang mewajibkan peserta didik sekolah untuk mengikuti Madrasah Diniyah seusai sekolah. Beberapa Kota/Kabupaten yang sudah menerapkannya diantaranya adalah Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Kudus, Kabupaten Purwakarta, dan beberapa kota/kabupaten yang lain. Hal itu pada umumnya juga disebabkan kebutuhan akan pendidikan karakter dan penyebaran nilai-nilai toleransi kepada peserta didik.

Full day school dan pendidikan madrasah diniyah memiliki sistem dan tujuan yang hamper sama. Dalam Membangun sistem pendidikan yang baik, Menteri Pendidikan dan Kebudayaaan harus membuat kebijakan yang komprehensif serta menyelaraskan semua potensi dalam yang ada dalam dunia pendidikan. Semua elemen harus disinkronisasi dan diintegrasikan untuk mendukung pendidikan karakter kepada peserta didik. Aturan yang jelas dan terarah harus dibuat tanpa mengeliminir antar satu lembaga pendidikan dengan lembaga pendidikan yang lain. Aturan yang dibuat harus bisa menekan kesenjangan akan pentingnya lembaga pembelajaran formal dan nonformal.

Sinkronisasi antar sistem pendidikan tersebut bisa dilakukan dengan berdampingan. Hanya saja perlu ditetapkan wilayah mana saja yang wajib menerapkan full day school dan wilayah mana saja yang wajib menerapkan pendidikan diniyah. Perbedaan tipologi masyarakat antara kota dan desa memungkinkan untuk dilakukan kedua sistem tersebut. Tetapi lebih dari itu, hal yang utama adalah memperbaiki kondisi sarana prasarana lembaga pendidikan, termasuk sarana fisik maupun non fisik, agar penerapan sistem pendidikan dapat berjalan dengan baik dan tujuan dari pendidikan dapat tercapai.